Kebisingan di Tempat Kerja (Db)

Kebisingan di Tempat Kerja (Db)

Kebisingan di Tempat Kerja (Db)

Katigapedia. Kebisingan bisa didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pendengarnya. Bising dapat diartikan sebagai bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari aktivitas alam seperti bicara dan aktivitas buatan manusia seperti penggunaan mesin (Marisdayana et.al, 2016). Menurut World Health Organization (WHO), kebisingan juga bisa diartikan sebagai suara apa saja yang sudah tidak diperlukan dan memiliki efek yang buruk untuk kualitas kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan (WHO, 2001).

Djalante (2010) menambahkan bahwa polusi udara atau kebisingan dapat didefinisikan sebagai suara yang tidak dikehendaki dan mengganggu manusia. Sehingga beberapa kecil atau lembut suara yang terdengar, jika hal tersebut tidak diinginkan maka akan disebut mengganggu.


Sumber Kebisingan

Menurut Suroto (2010), sumber-sumber kebisingan pada dasarnya dibagi menjadi tiga macam yaitu sumber titik, sumber bidang, dan sumber garis. Untuk kebisingan lalu lintas termasuk dalam kriteria sumber garis. Sumber-sumber kebisingan menurut Prasetio dapat bersumber dari:

  • Bising Interior (dalam)

Bising Interior atau bising dalam yaitu sumber bising yang bersumber dari manusia, alat-alat rumah tangga, atau mesing-mesin gedung.

  • Bising Outdoor (luar)

Bising Outdoor atau bising luar yaitu sumber bising yang berasal dari aktivitas lalu lintas, transportasi, industri, alat-alat mekanis yang terlihat dalam gedung, tempat-tempat pembangunan gedung, perbaikan jalan, kegiatan olahraga dan lain-lain diluar ruangan atau gedung.


Tipe-Tipe Kebisingan

Menurut Tambunan (2005), dilihat dari hubungan tingkat bunyi sebagai waktu maka tipe kebisingan dapat dibagi menjadi :

  • Kebisingan Kontinyu

Kebisingan yang fluktuasi intensitas kebsingan tidak lebih dari 6 dB dengan spektrum frekuensi yang luas. Contohnya misalnya seperti suara mesin gergaji.

  • Kebisingan terputus-putus

Kebisingan yang dimana bunyi mengeras dan melemah secara perlahan. Contohnya misalnya seperti jalan raya dan bunyi yang dihasilkan dari kereta api.

  • Kebisingan impulsif berulang

Kebisingan dimana waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncaknya tidak lebih dari 65 ms dan waktu yang dibutuhkan untuk penurunan intensitasnya sampai 20 dBA dibawah puncaknya tidak lebih dari 500 ms. Contohnya seperti suara mesin tempa di pabrik.

  • Steady-state noise

Kebisingan dengan tingkat tekana bunyi stabil terhadap perubahan waktu dan tak mengalami kebisingan yang stabil. Contohnya seperti kebisingan sekitar air terjun dan kebisingan pada interior pesawat terbang saat sedang diudara.

  • Fluctuating noise

Kebisingan yang kontinyu namun berubah-ubah tingkat tekanan bunyinya.

Kebisingan yang banyak ditimbulkan oleh daerah-daerah industri dapat dibedakan kedalam 3 jenis yaitu bising frekuensi tinggi (wide band noise), bising frekuensi rendah (narrow band noise) dan bising tiba-tiba dank eras (impulse noise). Bahaya yang ditimbulkan dari kebisingan juga beragam. Diantaranya ialah merusak indera pendengaran, mengganggu konsentrasi, serta menyebabkan emosi yang tidak stabil. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi resiko kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan paparan dari kebisingan yaitu :

  • Intensitas kebisingan (tingkat tekanan suara)
  • Jenis kebisingan (wide band, narrow band, impulse)
  • Jumlah dan hitungan durasi terpapar
  • Usia pekerja yang terpapar
  • Masalah pendengaran yang telah diderita sebelumnya
  • Lingkungan sekitar yang bising
  • Jarak pendengar dengan sumber kebisingan

Berdasarkan data yang ada, telinga manusia yang tidak menggunakan pelingung hanya dapat menerima frekuensi dalam kisaran 16-20.000 Hertz saja. Jika terpapar lebih dari 115 dBA maka akan sangat berbahaya. Maka dari itu penting untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi resiko bahaya dari kebisingan yang ada. Serta tidak lupa untuk terus melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. www.katigapedi.my.id

Posting Komentar

0 Komentar